RSS

Layanan Pendukung

08 Mei

INSTRUMEN BK

Instrumentasi merupakan bagian dari kegiatan pendukung dari bimbingan konseling yang mana  didalamnya terdapat instrumentasi tes maupun non tes,guna menjaring data dan mencatat segala keterangan siswa dalam pelaksanaan bimbingan data & keterangan yang perlu dijaring meliputi data statis maupun data dinamis.

Jenis-jenis Instrument Tes.
Dalam instrument tes ada beberapa jenis diantaranya:

  • Tes intelegensi.

Adalah suatu tes yang digunakan untuk melihat sejauhmana kemampuan atau potensi seseorang.
Kemudian menurut Wayan Nurkencana (1993:194) mengemukakan bahwa tes intelegensi ialah tes yang biasanya digunakan untuk meramalkan kemampuanseseorang mengikuti pelajaran di perguruan tinggi atau di sekolah.

  • Tes bakat yaitu tes yang digunakan untuk mengetahui bakat seseorang.
  • Tes kesiapan belajar yaitu tes yang dilakukan untuk melihat kesiapan belajar seseorang dalam menerima pelajaran.

Instrumentent non tes

  • Observasi
  • Wawancara
  • Angket sikap dan kepribadian
  • Angket sosiometri
  • Daftar cek masalah

Aplikasi Instrumentasi adalah upaya pegungkapan melalui pengukuran dengan memakai alat ukur atau instrument tertentu. Hasil aplikasi ditafsirkan, disikapi dan digunakan untuk memberikan perlakuan terhadap klien dalam bentuk
layanan konseling.

Syarat tes yang baik :
Penyusunan tes dilakukan melalui tiga tahap, yaitu perencanaan tes, penulisan tes dan analisis tes. Perencanaan tes dilakukan dengan langkah-langkah :
1.Menetapkan tujuan tes
2.Menetapkan hasil belajar yang akan diukur
3.Mempersiapkan tabel spesifikasi
4.Menetapkan isi materi tes
5.Menetapkan butir tes
6.Menyiapkan norma aturan
7.Mempersiapkan kunci scoring

 

Pustaka :  Yuliejantiningsih, Y.1994. Pembinaan Kedisiplinan bagi Siswa Kelas III SMA Negeri di Kodya Mojokerto. Tesis tidak dipublikasikan. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

http://cybercounselingstain.bigforumpro.com/t52-pengertian-instrumen-konseling

HIMPUNAN DATA

A.       PENGERTIANData adalah gambaran atau keterangan tentang ada atau  keadaan tertentu. Layanan Himpunan Data  adalah upaya Konselor untuk menghimpun, digolong-golongkan dan dikemas dalam betuk tertentu.

B.       TUJUAN

1.       Umum

Menyediakan data dalam  kualitas yang baik dan lengkap untuk menunjang penyelenggaraan pelayanan konseling sesuai dengan kebutuhan sasaran layanan.

2.       Khusus

Didominasi oleh fungsi pemahaman terhadap individu yang datanya  dihimpun. Ini akan mewujudkan fungsi pencegahan dan dapat pula fungsi pengentasan terhadap masalah individu. Lebih jauh, himpunan data ini dapat dijadikan  bahan dalam melaksanakan fungsi pengembangan dan  pemeliharaan dan dapatjuga digunakan dalam melindungi hak-hak individu yang sedang mengalami masalah HAM.

C.       KOMPONEN

1.       Jenis data

Data pribadi, kelompok dan data umum.

2.       Bentuk himpunan data

a.       Buku data pribadi

b.       Himpunan  lembaran dengan format  khusus

c.       Kumpulan data kelompok dan laporan kegiatan

d.       Program computer

e.       Kumpulan data umum

3.       Penyelenggara himpunan data

Konselor sebagai penyelenggara Himpunan data memiliki fungsi:

a.       Menghimpun data

b.       Mengembangkan data

c.       Menggunakan data

D.       ASAS

Didominasi oleh asas kerahasiaan yang sebelumnya data diperoleh dari responden dengan sukarela. Demi pengembangan maka asas kedinamisan dan keterpaduan menjadi hal penting.

E.       PENDEKATAN DAN TEKNIK

1.       Aplikasi intrumentasi

2.       Penyusunan dan  penyimpanan data

3.       Penggunaan perangkat komputer

4.       Tenaga administrasi

F.       OPERASIONALISASI

a.       Perencanaan

Menetapkan jenis dan klasifikasi data serta sumber-sumbernya, menetapkan  bentuk himpunan data, menetapkan dan manata fasilitas, menetapkan mekanisme pengisian, pemeliharaan dan penggunaan serta menyiapkan kelengkapan administrative.

b.       Pelaksanaan

Memetik dan memasukkan ke dalam HD sesua dengan klasifikasi, memanfaatkan data, memelihara dan mengembangkan HD.

c.       Evaluasi

Mengkaji evisiensi sistematika dan penggunaan fasilitas  yang digunakan, memerikasa kelengkapan, keakuratan, keaktualan dan kemanfaatan HD,

d.       Analisis  hasil evaluasi

Melaksanakan analisis terhadap hasil evaluasi berkenaan dengan kelengkapan, keakuratan, keaktualan, kemanfaatan dan efisiensi penyelenggaraannya.

e.       Tindak lanjut

Mengembangkan himpunan data mencakup:

1)       Bentuk, klasifikasi dan sistematika data

2)       Kelengkapan, keakuratan, ketepatan dan keaktualan data.

3)       Kemanfaatan data

4)       Penggunaan teknologi

5)       Teknis penyelenggaraan

f.        Pelaporan

Menyusun laporan HD, menyampaikan laporan dan mendokumentasi laporan.

SUMBER :

http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=33&Itemid=107

 

KONFERENSI KASUS

  1. Pengertian

Konferensi kasus merupakan kegiatan pendukung atau pelengkap dalam Bimbingan dan Konseling untuk membahas permasalahan siswa (konseli) dalam suatu pertemuan, yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan siswa (konseli).

Memang, tidak semua masalah yang dihadapi siswa (konseli) harus dilakukan konferensi kasus. Tetapi untuk masalah-masalah yang tergolong pelik dan perlu keterlibatan pihak lain tampaknya konferensi kasus sangat penting untuk dilaksanakan. Melalui konferensi kasus, proses penyelesaian masalah siswa (konseli) dilakukan tidak hanya mengandalkan pada konselor di sekolah semata, tetapi bisa dilakukan secara kolaboratif, dengan melibatkan berbagai pihak yang dianggap kompeten dan memiliki kepentingan dengan permasalahan yang dihadapi siswa (konseli).
Kendati demikian, pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Artinya, tidak semua pihak bisa disertakan dalam konferensi kasus, hanya mereka yang dianggap memiliki pengaruh dan kepentingan langsung dengan permasalahan siswa (konseli) yang boleh dilibatkan dalam konferensi kasus. Begitu juga, setiap pembicaraan yang muncul dalam konferensi kasus bersifat rahasia dan hanya untuk diketahui oleh para peserta konferensi.
Konferensi kasus bukanlah sejenis “sidang pengadilan” yang akan menentukan hukuman bagi siswa. Misalkan, konferensi kasus untuk membahas kasus narkoba yang dialami siswa X. Keputusan yang diambil dalam konferensi bukan bersifat “mengadili” siswa yang bersangkutan, yang ujung-ujungnya siswa dipaksa harus dikeluarkan dari sekolah, akan tetapi konferensi kasus harus bisa menghasilkan keputusan bagaimana cara terbaik agar siswa tersebut bisa sembuh dari ketergantungan narkoba.

  1. Tujuan

Secara umum, tujuan diadakan konferensi kasus yaitu untuk mengusahakan cara yang terbaik bagi pemecahan masalah yang dialami siswa (konseli) dan secara khusus konferensi kasus bertujuan untuk:

  1. mendapatkan konsistensi, kalau guru atau konselor ternyata menemukan berbagai data/informasi yang dipandang saling bertentangan atau kurang serasi satu sama lain (cross check data)
  2. mendapatkan konsensus dari para peserta konferensi dalam menafsirkan data yang cukup komprehensif dan pelik yang menyangkut diri siswa (konseli) guna memudahkan pengambilan keputusan mendapatkan pengertian, penerimaan, persetujuan dari komitmen peran dari para peserta konferensi tentang permasalahan yang dihadapi siswa (konseli) beserta upaya pengentasannya.
  1. Prosedur
    Konferensi kasus dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut:
    1. Kepala sekolah atau Koordinator BK/Konselor mengundang para peserta konferensi kasus, baik atas insiatif guru, wali kelas atau konselor itu sendiri. Mereka yang diundang adalah orang-orang yang memiliki pengaruh kuat atas permasalahan dihadapi siswa (konseli) dan mereka yang dipandang memiliki keahlian tertentu terkait dengan permasalahan yang dihadapi siswa (konseli), seperti: orang tua, wakil kepala sekolah, guru tertentu yang memiliki kepentingan dengan masalah siswa (konseli), wali kelas, dan bila perlu dapat menghadirkan ahli dari luar yang berkepentingan dengan masalah siswa (konseli), seperti: psikolog, dokter, polisi, dan ahli lain yang terkait.

2. Pada saat awal pertemuan konferensi kasus, kepala sekolah atau konselor membuka acara pertemuan dengan menyampaikan maksud dan tujuan dilaksanakan konferensi kasus dan permintaan komitmen dari para peserta untuk membantu mengentaskan masalah yang dihadapi siswa (konseli), serta menyampaikan pentingnya pemenuhan asas–asas dalam bimbingan dan konseling, khususnya asas kerahasiaan.
3. Guru atau konselor menampilkan dan mendekripsikan permasalahan yang dihadapi siswa (konseli). Dalam mendekripsikan masalah siswa (konseli), seyogyanya terlebih dahulu disampaikan tentang hal-hal positif dari siswa (konseli), misalkan tentang potensi, sikap, dan perilaku positif yang dimiliki siswa (konseli), sehingga para peserta bisa melihat hal-hal positif dari siswa (konseli) yang bersangkutan. Selanjutnya, disampaikan berbagai gejala dan permasalahan siswa (konseli) dan data/informasi lainnya tentang siswa (konseli) yang sudah terindentifikasi/terinventarisasi, serta upaya-upaya pengentasan yang telah dilakukan sebelumnya.
4. Setelah pemaparan masalah siswa (konseli), selanjutnya para peserta lain mendiskusikan dan dimintai tanggapan, masukan, dan konstribusi persetujuan atau penerimaan tugas dan peran masing-masing dalam rangka pengentasan/remedial atas masalah yang dihadapi siswa (konseli).
5. Setelah berdiskusi atau mungkin juga berdebat, maka selanjutnya konferensi menyimpulkan beberapa rekomendas/keputusan berupa alternatif-alternatif untuk dipertimbangkan oleh konselor, para peserta, dan siswa (konseli) yang bersangkutan, untuk mengambil langkah-langkah penting berikutnya dalam rangka pengentasan masalah siswa (konseli).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyelenggarakan konferensi kasus, antara lain:
1. Diusahakan sedapat mungkin kegiatan konferensi kasus yang hendak dilaksanakan mendapat persetujuan dari kasus atau siswa (konseli) yang bersangkutan.
2. Siswa (konseli) yang bersangkutan boleh dihadirkan kalau dipandang perlu, boleh juga tidak, bergantung pada permasalahan dan kondisinya.
3. Diusahakan sedapat mungkin pada saat mendeskripsikan dan mendikusikan masalah siswa (konseli) tidak menyebut nama siswa (konseli) yang bersangkutan, tetapi dengan menggunakan kode yang dipahami bersama.
4. Dalam kondisi apa pun, kepentingan siswa (konseli) harus diletakkan di atas segala kepentingan lainnya.
5. Peserta konferensi kasus menyadari akan tugas dan peran serta batas-batas kewenangan profesionalnya.
6. Keputusan yang diambil dalam konferensi kasus berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional, dengan tetap tidak melupakan aspek-aspek emosional, terutama hal-hal yang berkenaan dengan orang tua siswa (konseli) yang bersangkutan.
7. Setiap proses dan hasil konferensi kasus dicatat dan diadminsitrasikan secara tertib.

Pustaka:

Abin Syamsuddin, (2003), Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosda Karya

Prayitno dan Erman Anti, (1995), Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta : P2LPTK Depdikbud
Prayitno (2003), Panduan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah

Winkel, W.S. (1991), Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Jakarta : Gramedia
LAST_UPDATED2

ALIH TANGAN KASUS

A.       PENGERTIAN

Upaya bantuan agar klien mendapatkan layanan  yang  optimal  dari ahli lain yang benar-benar handal.
B.       TUJUAN

  1.  Umum

Klien mendapat layanan yang optimal  atas  masalah yang dialaminya.

  1.   Khusus

Terwujudnya keempat fungsi konseling  tarutama dalam upaya  pengentasan masalah klien. Layanan ini juga mewujudkan upaya pemahaman dan pencegahan serta pengembangan dan pemeliharaan.

C.       KOMPONEN

1.       Klien dan masalahnya

Konselor tidak berkewenangan dalam menangani masalah:

a.       Penyakit

b.       Kriminlitas

c.       Psikotropika

d.       Guna-guna

e.       Keabnormalan akut

2.       Konselor

Sebelum di-ATK-kan maka Konselor hendaknya memperhatikan keadaan kenormalan klien dan subtansi masalah klien.

3.       Ahli lain

·          Dokter

·          Psikiater

·          Psikolog

·          Guru

·          Ahli bidang tertentu: agama, adat dll

D.       Asas

Asas yang digunakan adalah asas Kesukarelaan untuk dipindah ke ahli lain, keterbukaan terhadap segala  yang dirasakan kepada ahli lain dan kerahasiaan.

E.       Pendekatan dan Teknik

  1. Pertimbangan:
  • karena masalah yang  ada  bukan lagi wewenang Konselor
  •  Hubungan antara  ko dan ki sudah dekat
  1.    Kontak

Konselor  melakukan kontak awal dengan ahli lain, melalui cara yang  cepat dan tepat. Jika ditanggapi positif oleh ahli lain yang dihubungi, maka klien  bertemu dengan ahli lain tersebut dengan membawa surat pengantar jika diperlukan.

  1.  Evaluasi

Evaluasi dilakukan setelah ki menghubungi pihak lainnya.

F.       Operasionalisasi

  1. Perencanaan

Menetapkan kasus yang akan di ATK, meyakinkan klien akan ATK, menghubung ahli lain yang menjadi arah ATK, menyiapkan   materi ATK dan kelengkapan administratif.

  1.  Pelaksanaan

Mengkomunikasikan rencana ATK kepada pihak terkait dan mengalihtangankan klien kepada pihak terkait itu.

  1. Evaluasi

Membahas hasil ATK  melalui: Klien, laporan dari ahli lain dan analisis hasil ATK kemudian mengkaji hasil ATK terhadap  pengentasan  masalah klien.

  1.  Analisis  hasil evaluasi

Melakukan analisis terhadap efektifitas ATK terhadap pengentsan  masalah  klien secara menyeluruh.

  1. Tindak lanjut

Menyelenggarakan layanan lanjutan oleh konselor jika diperlukan atau klien memerlukan ATK ke ahli lain lagi.

  1. Pelaporan

Menyusun laporan kegiatan ATK,  menyampaikan laporan dan mendokumentasi laporan.

Pustaka http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=34&Itemid=111

 

 

KUNJUNGAN RUMAH

Home Visit adalah salah satu tehnik pengumpul data dengan jalan mengunjungi rumah siswa untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa dan untuk melengkapi data siswa yang sudah ada yang diperoleh dengan tehnik lain (WS.Winkel, 1995).

Alasan Penggunaan Home Visit

  1. Hanya sebagian kecil waktu anak berada di sekolah dan selebihnya berada di rumah. Untuk melengkapi pengalaman membimbing tentang seseorang perlu mengetahui kehidupan keluarga di mana anak itu tinggal dan banyak melakukan kegiatan sesudah pulang sekolah.
  2. Tidak sedikit masalah yang timbul di sekolah, berasal dari rumah.

Tujuan Home Visit.

  1. Membangun hubungan antara lembaga keluarga, sekolah dan masyarakat.
  2. Mengumpulkan data yang berharga tentang latar belakang kehidupan anak dan keluarganya, mengumpulkan data dapat berarti mendapat data baru atau mengecek betul tidaknya data yang diperoleh melalui metode lain.
  3. Lebih mengenal lingkungan hidup siswa sehari-hari, bila informasi yan dibutuhkan tidak dapat diperoleh melalui angket dan wawancara informasi.
  4. Untuk membicarakan kasus seorang siswa bila memerlukan kerjasama dengan orang tua.

Langkah-langkah Home Visit

  1. Persiapan
  • Menentukan tujuan.
  • Menentukan waktu pelaksanaan
  • Mengirim surat pemberitahuan kepada orang tua yang diketahui oleh kepala sekolah.
  • Mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan, misalnya daftar pertanyaan dan pedoman observasi.
  1. Pelaksanaan
  • Perkenalan, dimaksudkan untuk mengadakan kontak yang baik agar konsep orang tua tidak bersifat defensif / mempertahankan diri. Untuk menciptakan hubungan baik, konselor harus bersikap sopan dan sabar, menjelaskan maksud dan tujuan home visit. Dengan demikian diharapkan orang tua siswa akan bersikap terbuka.
  • Mengadakan observasi seperlunya.
  • Mengadakan wawancara yang sesungguhnya dan secukupnya.
  1. Penutup :Mengakhiri home visit dan minta diri. Akhirilah home visit pada waktu yang tepat,    dengan melihat kemungkinan terjadinya kebosanan dan memeprtimbangkan waktu.
  2. Pembuatan laporan : Dalam menyusun laporan home visit hendaknya dibuat juga kesimpulan (sementara ).

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Home Visit.

  1. Mengadakan persiapan mental sebelumnya mengenai informasi apa yang ingin diperoleh .
  2. Konselor perlu bersikap wajar, sopan dan menghargai dan ada kesediaan untuk menolong untuk menghindari memberikan kesan seolah-olah diadakan pemeriksaan atau penggeledahan.
  3. Harus ada kepastian sebelum berkunjung ,bahwa kedatangan konselor akan disambut dengan baik. Kepastian itu dapat diperoleh dari surat balasan yang diberikan orang tua terhadap surat pemberitahuan dari sekolah mengenai rencana kunjungan rumah atau dengan menanyai siswa yang bersangkutan tentang rencana berkunjung ke rumahnya. Kalau siswa tidak menyukainya atau meragukan kerelaan orang tua menerima kunjungan petugas bimbingan / konselor, pada umumnya lebih baik rencana itu dibatalkan saja.
  4. Membuat catatan seperlunya, sesuai dengan tujuan.
  5. Hindari wawancara sepihak.
  6. Pada ibu biasanya banyak tersimpan data.
  7. Sebelum mengadakan home visit, sebaiknya pembimbing mempelajari data anak di sekolah.
  8. Mencari data sejauh yang memungkinkan.
  9. Pendekatan dapat dilakukan dari segi positif atau kekuatan dari keluarga anak.
  10. Hasil dari home visit dipergunakan dalam rangka menolong.
  11. Sesudah kembali dari kunjungan rumah, pembimbing membuat laporan singkattentang informasi yang diperoleh dengan membedakan antara fakta dan datadengan kesan pribadi yang merupakan interpretasi terhadap informasi.Laporan disimpan sendiri dan tembusan dilampirkan pada kartu pribadi siswa yang
    bersangkutan.

Informasi yang Diperoleh dalam Home Visit.

Informasi yang dapat dikumpulkan biasanya mencakup hal-hal :

  1. Letak rumah dan keadaan di dalam rumah : keadaan fisik daerah di sekitar rumah, ukuran rumah, perlengkapan di dalam rumah, sumber penerangan, dsb.
  2. Fasilitas belajar yang tersedia bagi siswa : ruang belajar, meja belajar, macam sumber penerangan, sumber-sumber gangguan.
  3. Kebiasaan belajar siswa : belajar pada waktu-waktu kapan, berinisiatif sendiri atau harus dikejar-kejar, belajar bersama teman atau sendirian.
  4. Suasana keluarga : corak hubungan antara anak dan orang tua (akrab atau tidak), sikap orang tua terhadap sekolah, sikap orang tua terhadap teman-teman bergaul anaknya, harapan kedua orang tua terhadap anaknya, tekanan ekonomi, dsb.

Keterbatasan Home Visit.

  1. Menyita banyak waktu dari pembimbing di luar jam kerjanya.
  2. Orang tua mudah merasa tidak enak dipancingi informasi macam-macam tentang keadaan keluarganya.
  3. Informasi yang dapat diperoleh terbatas, sebab petugas bimbingan hanya melihat ruang tamu.
  4. Pada umumnya orang tua cenderung memberikan kesan yang baik tentang keluarganya, sehingga informasi yang diberikan tidak / belum tentu menggambarkan keadaan yang sesungguhnya.
  5. Orang tua siswa belum menyadari pentingnya kunjungan rumah.
  6. Hambatan bagi pembimbing yang belum matang secara pribadi dan dalam pemahaman sosial yaitu adanya kesukaran ketika berhubungan dengan orang tua. Adanya perasaan curiga dari orang tua jika tujuan home visit tidak jelas.

Kelebihan Home Visit

  1. Mendapatkan secara langsung data dan masalah yang dihadapi oleh siswa.
  2. Dapat untuk mencocokkan data yang sebelumnya telah diperoleh dari siswa.
  3. Memperoleh hubungan timbal balik / kerjasama yang sehat antara pembimbing dan orang tua.

Sumber : IKI.ORG “www.konselor.org”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 05/08/2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: